Ramadan Datang Setiap Tahun. Tapi Kenapa Kita Masih di Titik yang Sama?
Setiap tahun Ramadan selalu datang dengan suasana yang hampir serupa, membawa rasa haru, harapan baru, dan semangat yang entah kenapa selalu terasa lebih hidup dibanding bulan-bulan lainnya. Kita membuat target, memperbaiki jadwal, bahkan berjanji dalam hati bahwa Ramadan kali ini tidak boleh biasa saja dan harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun ketika bulan itu berlalu dan kehidupan kembali berjalan normal, perlahan kebiasaan lama muncul lagi tanpa terasa. Tilawah yang dulu rutin setiap hari mulai jarang dibuka, bangun malam yang tadinya terasa ringan kembali menjadi berat, dan kesabaran yang sempat meningkat seperti kembali ke titik awal. Teman Shafwah, mungkin yang perlu kita renungkan bukan lagi “apakah kita sudah menjalani Ramadan dengan baik”, tetapi “apakah kita benar-benar membiarkan Ramadan mengubah kita.”
Kita Sibuk Menjalani Ramadan, Tapi Lupa Menghayatinya
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar sampai magrib, karena Allah sendiri sudah menjelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan akhirnya adalah agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Itu berarti ada perubahan karakter yang diharapkan terjadi, bukan hanya perubahan jadwal makan atau rutinitas ibadah selama tiga puluh hari.
Selama Ramadan, kita mampu menahan emosi, lebih berhati-hati dalam berbicara, dan lebih sadar bahwa setiap perbuatan sedang dilihat oleh Allah. Ada rasa diawasi, ada rasa ingin lebih baik. Tetapi setelah Ramadan selesai, sering kali kesadaran itu tidak ikut kita jaga, seolah-olah ia hanya berlaku selama bulan suci saja.
Padahal jika tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, maka hasilnya seharusnya tetap terasa bahkan ketika Ramadan sudah berlalu.
Kita Mengejar Target, Tapi Jarang Mengevaluasi Hati
Tidak sedikit dari kita yang membuat daftar target ibadah dengan sangat serius, mulai dari khatam Al-Qur’an beberapa kali, memperbanyak sedekah, hingga memastikan tidak pernah tertinggal tarawih. Semua itu tentu baik dan bernilai, tetapi terkadang fokus kita berhenti pada pencapaian angka, bukan pada kedalaman rasa yang seharusnya tumbuh di dalam hati.
Kita merasa puas ketika target tercapai, namun jarang bertanya apakah hati kita benar-benar lebih lembut, apakah doa kita benar-benar lebih jujur, atau apakah hubungan kita dengan Allah benar-benar terasa lebih dekat dan lebih hangat dibanding sebelumnya.
Padahal bisa jadi satu malam ketika kita berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh pengakuan dan harap, lebih mengubah hidup dibanding puluhan aktivitas yang dijalani tanpa penghayatan yang dalam.
Ramadan Seharusnya Membuat Kita Naik Level
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan dalam Sahih Bukhari disebutkan bahwa beliau semakin dermawan ketika Ramadan tiba. Itu menunjukkan bahwa Ramadan adalah momen peningkatan kualitas diri, bukan sekadar rutinitas tahunan yang datang dan pergi begitu saja.
Logikanya sederhana, jika setiap Ramadan kita benar-benar naik satu tingkat saja dalam kesabaran, dalam kejujuran, dalam menjaga lisan, atau dalam kedekatan dengan Al-Qur’an, maka beberapa tahun kemudian seharusnya kita sudah berada di posisi yang jauh berbeda dari hari ini.
Namun jika setiap tahun semangat itu hanya bertahan sesaat lalu kembali seperti semula, wajar jika akhirnya kita merasa berjalan di tempat dan tidak mengalami perubahan berarti.
Mungkin Perubahannya Ada, Hanya Tidak Kita Jaga
Bisa jadi sebenarnya Ramadan sudah bekerja di dalam diri kita, hanya saja perubahannya tidak selalu besar dan dramatis. Mungkin hati sedikit lebih peka, mungkin kita lebih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an, mungkin ada satu kebiasaan baik yang sebenarnya masih bertahan sampai hari ini tanpa kita sadari.
Masalahnya sering kali bukan karena Ramadan gagal mengubah kita, tetapi karena kita tidak berusaha menjaga perubahan kecil itu agar tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat.
Teman Shafwah, mungkin kita tidak perlu menjadi versi yang sepenuhnya berbeda hanya dalam satu Ramadan. Cukup pilih satu kebiasaan baik yang paling terasa dampaknya bagi hati, lalu rawat dengan konsisten sampai Ramadan berikutnya datang.
Karena pada akhirnya, perubahan sejati bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan dalam kebaikan itu.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, perjalanan itu sebenarnya sudah dimulai sejak lama hanya saja kita belum melihatnya dengan lebih jernih.
